Selasa, 03 September 2013

Tasawuf Al-Gazali


Tasawuf Al Ghazali;
Tasawuf yang dibangun oleh Al-Ghazali mempunyai karakteristik yang berbeda dengan tasawufnya Abu Yazid Al Bustami atau Abu Mansur Al Hallaj yang lebih cenderung kepada rasa cinta kepada Tuhan yang kemudian meninggalkan segalanya. Karakter tasawuf Al Ghazali adalah tasawuf yang religius sunni yang bertumpu pada kesucian rohani serta keluhuran budi  yang merupakan perwujudan paling otentik dan valid dari religiusitas seseorang. Tasawuf yang sunni inilah kemudian diterima oleh kalangan luas dan akhirnya mempunyai pengaruh yang begitu kuat di dunia Islam.
Al Ghazali juga telah berhasil menghubungkan rumusan-rumusan dogmatic dan formal dari ilmu kalam ortodoks dengan ajaran agama yang dinamis. Sehingga beliaulah pelopor yang telah berhasil dan mampu menghidupkan kembali dua disiplin tersebut dengan semangat wahyu yang orisinil. Artinya dia telah memberi pelajaran yang sangat berharga kepada golongan skolastik murni serta mampu melenturkan watak dogmatis ajaran agama dan memasukkan dimensi yang vital diantara segi-segi lahiriah (eksoterik) dengan segi batiniah (esoteric).


kemampuan seorang guru



Oleh : Ilin Solehudin


A.    Sekilas tentang guru
Guru adalah suatu profesi. Sebelum ia bekerja menjadi guru terlebih dahulu dididik dalam suatu lembaga pendidikan keguruan dalam lembaga pendidikan tersebut dia tidak hanya dididik mengenai materi ilmu pengetahuan atau bidang studi, ilmu dan metode yang akan diajarkan akan tetapi dibina agar memiliki kepribadian sebagai guru.
Sebagai pendidik yang professional, guru bukan saja dituntut melaksanakan tugasnya secara professional tetapi juga harus memilki pengetahuan dan kemampuan professional. Nana saodih mengemukakandalam melaksanakan tugasnya guru harus memiliki kematangan atau kedewasaan pribadi serta kesehatan jasmani dan rohani. Dia berpendapat minimal ada tiga cirri kedewasaan, ialah: memiliki pedoman dan tujuan hidup, mampu melihat segala sesuatu secara objektif dan bertanggung jawab atas perbuatanya.   
Guru harus mampu menciftakan suasana kondusif dalam kelas karena guru merupakan bapak kedua yang bertanggung jawab dalam pertumbuhan dan perkembangfan jiwa anak. K. Hajar Dewantara telah menggariskan tentang pentingnya guru dalam proses pembelajaran. Ialah sebagai berikut:
a.      Ing ngarsa sungtulada (member teladan jika di depan)
b.      Ing madya mangun karsa (jika ditengah member peluang untuk berprakarsa)
c.       Tut wuru handayani (memberikan dorongan dan arahan jika dibelakang)
B.     Mutu guru
Seberapapun baknya sarana prasara jika tanpa didorong oleh kemampuan guru maka tidak akan dapat mencapai tujuan pendidikan tersebut. Maka guru meski memiliki pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan yang bagus. Guru merupakan salah satu paktor yang menetukan keberhasilan siswa dalam belajar dalam mencapai tujuan pendidikan nasional. Maka salah satu upaya yang harus dilakukan ialah meningkatkan kualitas mutu guru. Adapaun langkahnya kurang lebih terdiri dari: Pertama peningkatan martabat gurup dan eningkatan professional guru
C.  Kemampuan yang harus dimiliki guru agar bisa professional
Kemampuan merupakan prilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai kondisi yang diharapkan. Berarti oarnga yang memiliki kemampuan adalah benar-benar orang yang memiliki keahlian dibidangnya dengan istilah lain dikemnal dengan sebutan “professional”.
Agar bisa profesionalmaka guru harus memiliki kemampuan dann keterampilan yang berkaitan dengan proses pembelajaran, diantaranya guru harus:
1.      Mampu menguasai bahan ajar,
2.      Mampu mengelola kelas,
3.      Mampu menggunakan metode, media dan sumber belajar,
4.      Mampu melalukan penilaian baik proses ataupun hasil.
Sedangkan menurut Dedi Supriadi (1998) dalam jurnal pendidikan agar guru menjadi professional harus memiliki lima hal yaitu:
1.      Harus memilki komitmen terhadap siswa dalam pembelajaranya,
2.      Menguasai materi serta cara penyampaianya secara mendalam,
3.      Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar
4.      Guru harus mampu berpikir sistematis
5.      Guru seyogianya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesisnya.
Jika disimpulkan minimalnya ada dua hal yang mesti dimiliki seorang guru agar pembelajaran bisa berjalan secara efektif dan bermakna. Yaitu, menguasai materi pembelajaran dan menguasai ilmu mendidik.
D.      Ciri-ciri guru yang baik dalam mengelola pembelajaran
Menurut Combs Dkk dalam Soemanto Wasty (1998) bahwa cirri-ciri guru yang baik adalah:
1)      Guru yang mempunyai anggapan bahwa orang lain memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah mereka sendiri dengan baik.
2)      Guru yang melihat orang lain mempunyai sifat ramah dan bersahabat dan bersifat ingin berkembang.
3)      Guru yang memandang bahwa orang laing patut dihargai,
4)      Guru yang memandang oaran lain bahwa pada dasarnya mereka berkembang dengan sendirinya,
5)      Guru yang memandang bahwa orang lain itu dapat memenuhi dan meningkatkan dirinya bukan menghalangi apalagi mengancam.
E.     Peran guru dalam mewujudkan pembelajaran efektif dan bermakna
Mukhtar dan Marsinis Yamin (2005) dam M.Sobry Sutikno (2007), menjelaskan bahwa untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif dan bermakna seorang guru harus melaksanakan beberapa peran berikut ini: 
a)      Guru sebagai model
b)      Guru sebagai perencana
c)      Guru sebagai pendiagnosa kemajuan belajar siswa,
d)     Guru sebagai peminpin
e)      Guru sebagai petunjuk jalan kepada sumber-sumber.
F.      Keterampilan dasar guru dalam pembelajaran
Ada delapan keterampilan dasar pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Sebagai berikut:
§  Keteampilan bertanya,
§  Keterampilan memberkan penguatan
§  Keterampilan mengadakan variasi
§  Keterampilan menjelaskan
§  Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
§  Keterampilan membingbing diskusi kelompok kecil
§  Keterampilan mengelola kelas,
§  Keterampilan membelajarkan perorangan.

Senin, 21 Januari 2013

KEBUDAYAAN


 PENGERTIAN KEBUDAYAAN

DITULIS 
OLEH : ILIN SOLEHUDIN

Pengertian kebudayaan dalam garis besarnya dapat di tinjau dan dibagi menjadi enam kelompok yaitu; kelompok Pertama menggunakan pendekatan deskriptif. Kedua, pendekatan historis. Ketiga, normatif. Keempat, pendekatan psikologi. Kelima, pendekatan stuktural. Dan Keenam pendekatan genetik[1].
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. terdapat tiga istilah yang terkadang memiliki makna yang sama yaitu; kebudayaan, adat istiadat, dan kebiasaan. Pengertian adatistiadat adalah aneka kelaziman dalam suatu negeri yang mengikuti pasang naik dan pasang surut situasi masyarakat. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali) lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah. Adat istiadat semacam ini sangat tergantung pada  situasi sosial ekonomi masyarakat.
Definisi Kebiasaan adalah sesuatu yang kita lakukan secara periodik (present tense/saat ini). Dulunya, (past tense) hal itu tidak  pernah kamu lakukan, tapi sekarang jadi melakukannya secara periodik. Selanjutnya ialah Tradisi (Bahasa Latintraditio, "diteruskan") atau kebiasaan, dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negarakebudayaanwaktu, atau agama yang sama.
Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke-generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Menurut Soerjanto Poespowardojo 1993 Budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara belajar.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.


[1] Musa Asy’arie. Manusia Pembentuk Kebudayaan Dalam Al-Qura’an.  Cet.pertama.1992. hal.93-94

Sabtu, 19 Januari 2013


KOMPONEN-KOMPONEN PEMBELAJARAN
Nama : Ilin Solehudi
Nim : 208 203 227
Jur : Kependidikan Islam /A/IV

Komponene-komponen pembelajaran sebagai berikut:
A.      Komponen tujuan
       Tujuan pembelajaran adalah kemampuan-kemampuan yang diharapkan dimiiliki siswa setelah memperoleh pengalaman belajar (M. Sobry Sutikno:2009).  Dengan kata lain tujuan adalah cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan pembelajaran. Menurutr Wina Sanjaya dan Wari Suari (1991). kemampuan tersebut meliputi: kemampuan kongnitif, afektif dan keterampilan (psikomotor). Tujuan memiliki jenjang dari yang luas sampai ke yang sempit, maka jika tujuan yang sempit tidak tercapai maka tujuan luasnyapun tidak akan tercapai karena dalam hal ini tujuan saling berkaitan dari tujuan satu ketujuan berikutnya. Oleh karena itu tujuan merupakan asfek yang paling utama karena sangat menetukan arah pembelajaran itu sendiri.  
B.       Komponen materi
       Unsur ini merupakan yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh seorang guru. Materi merupakan medium untuk mencapai tujuan pembelajaran (yang dikonsumsi) oleh siswa. Oleh karena itu menetukan materi haruslah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai baik yang bersifat kongnitif, afektif ataupun psikomotor tersebut. Oleh karena itu materi merupakan unsure inti yang ada dalam proses pembelajaran. Karena memang materi pelajaran itulah yang mesti dikuasai oleh siswa (Suharsimi Arikunto: 1990). Materi haruslah sesuai dengan kebutuhan siswa dimasa yang akan datang karena sesuai dengan pendapat sudirman bahwa materi yang sesuai dengan kebutuhan siswa akan memotivasi siswa dal;am jangka waktu tertentu.
       Nan Sudjana (2000) mengemukakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan materi pelajaran diantranya sebagai berikut:
Ø  Materi pelajaran harus sesuai dan menunjang tercapainya tujuan,
Ø  Materi pelajaran ditulis secara garis besar saja tanpa terperinci,
Ø  Menetapkan urutan materi harus sesuai dengan urutan tujuan,
Ø  Urutan materi hendaknya memperhatikan kesinambungan (kontinuitas)
Ø  Materi pelajaran disusun dari yang kongkrit menuju yang abstrak, dari yang mudah keying sulit dari yang sederhana ke yang kompleks. Sifat materi ada yang factual dan ada yang konseptual.
C.       Komponen strategi
       Stra tegi merupakan bagian langkah-langkah dalam mencapai apa yang di inginkan. Berarti disini strategi ialah langkah untuk mengsiasati agar dapat menunjang pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Adapun mengenai strategi sebagai mana telah kita bahas sangat banyak diantaranya menurut M. Sobry Sutikno ada 11 dalam buku lain ada 14 dan masih banyak lagi menurut ilmuan lain.
       Sedang metode itu sendiri ialah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Penggunaan metode sangat penting digunakan dan disesuaikan oleh guru sesuai dengan materi dan tujuan yang ingin dicapai.   
D.      Komponen media
       Media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Dwyner (1967) berpendapat bahwa belajar yang sempurna hanya dapat tercapai jika menggunakan bahan-bahan audio visual yang mendekati realitas.
E.       Komponen evalusi
       Menurut wand dan brown (dalam pupuh pathurrahman dan M. Sobry Sutikno (2007) evalusi adalah suatu tidakan atau proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Rumusan yang bersifat oprasional dikemukakan Roestyah (1989) bahwa evalusi adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya mengenai kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil belajar siswa guna mendorong stsu mengembsngksn kemsmpusn belajar.
       Jadi evalusi merupakan aspek yang paling penting yang berguna untuk mengukur dan menilai seberapa jauh tujuan tujuan pembelajaran telah tercapai atau hingga mana terdapat kemajuan belajar siswa dan bagaimana tingkat kleberhasilan sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.


SUMBER:
·         Kurikulum dan Pembelajaran (Wina Sanjaya : 2008)
·         Belajar dan Pembelajaran (M. Sobry Sutikno: 2009)